Taman Marga Satwa dengan Pendekatan Biomimikri di Cijayanti, Bogor

Authors

  • Laxitha Arum Pratiwi Universitas Pancasila
  • Nia Rachmawati Universitas Pancasila

Abstract

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tinggi dengan 2.164 jenis satwa endemik, namun banyak yang terancam punah akibat kerusakan habitat dan perburuan liar. Kondisi ini mendasari permasalahan kurangnya fasilitas edukasi hayati yang imersif dan kebutuhan fasilitas rehabilitasi satwa yang memadai di Bogor. Tujuan perancangan ini adalah menciptakan taman margasatwa di tapak RTH berkontur di Bogor, yang berfokus utama pada kesejahteraan satwa (animal welfare), edukasi publik yang empatik, dan penerapan arsitektur biomimikri yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah Research-Based Design , menggabungkan data primer (analisis biofisik, topografi, dan iklim mikro tapak) dengan data sekunder (studi literatur, regulasi BKSDA, dan studi preseden seperti Singapore Zoo). Pendekatan fundamental yang digunakan adalah arsitektur biomimikri yang diterapkan pada tiga level (organisme, perilaku, dan ekosistem) , disintesis dengan pendekatan kontekstual-ekologis. Hasilnya adalah sebuah konsep perancangan yang adaptif terhadap data iklim mikro tapak (suhu 27°C, kelembapan 68%) dan topografi berkontur. Desain ini memprioritaskan habitat etologis yang imersif  (bukan kandang konvensional) dan menerapkan strategi desain pasif serta rainwater harvesting. Konsep ini menghasilkan arsitektur yang 'bertumbuh' secara organik dari karakter ekologis tapak dengan zonasi fungsional (publik, semi-privat, servis)  untuk menciptakan ekosistem terpadu yang berkelanjutan.

Kata kunci— Taman Marga Satwa; Arsitektur Biomimikri; Kesejahteraan Satwa (Animal Welfare); Research-Based Design; Bogor.

References

N. Aditya and W. Setyawan, “Ekoturisme: Arsitektur Dalam Konservasi Satwa,” J. Sains Dan Seni ITS, vol. 7, no. 2, pp. 116–120, Feb. 2019, doi: 10.12962/j23373520.v7i2.33007.

“Permen LHK Nomor 22 Tahun 2018.”

P. Misi, “WAZA adalah suara komunitas global kebun binatang dan akuarium dan katalisator untuk aksi konservasi kolektif mereka”.

“UU Nomor 5 Tahun 1990.”

“Mengenal+Lebih+dekat+satwa+langka_terbit.”

Y. Aristides, A. Purnomo, and F. A. Samekto, “PERLINDUNGAN SATWA LANGKA DI INDONESIA DARI PERSPEKTIF CONVENTION ON INTERNATIONAL TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF FLORA AND FAUNA (CITES),” vol. 5, 2016.

J. M. Benyus, “Biomimicry: Innovation Inspired by Nature”.

N. Verbrugghe, E. Rubinacci, and A. Z. Khan, “Biomimicry in Architecture: A Review of Definitions, Case Studies, and Design Methods,” Biomimetics, vol. 8, no. 1, p. 107, Mar. 2023, doi: 10.3390/biomimetics8010107.

Y. M. Purba and M. B. Susetyarto, “STUDI PENDEKATAN BIOMIMIKRI DALAM DESAIN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN,” . Volume, vol. 6, 2025.

F. A. Nasution, P. Aldy, and M. D. Susilawaty, “KAJIAN ARSITEKTUR BIOMIMIKRI DALAM PERANCANGAN ROKAN HULU BUTTERFLY PARK AND CONSERVATION CENTER,” J. Arsit. ZONASI, vol. 3, no. 3, pp. 322–337, Oct. 2020, doi: 10.17509/jaz.v3i3.26876.

Downloads

Published

2026-01-25

Issue

Section

Sub Tema 3: Arsitektur dan Tata Ruang Cerdas Berbasis Keberlanjutan