prosiding psikologi
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi
<p>Prosiding Fakultas Psikologi Universitas Pancasila merupakan sebuah platform atau media publikasi untuk luaran hasil dari Konferensi Ilmiah yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Pancasila. Terdiri dari dua cakupan wilayah penyelenggaraan, yaitu Nasional dan Internasional. Cakupan wilayah Nasional terdiri dari Temu Ilmiah Nasional (TIN) yang diadakan setiap dua tahun satu kali (tiap tahun ganjil). Kemudian, untuk cakupan Internasional, Fakultas Psikologi Universitas Pancasila mengadakan International Conference on Psychology and Interdisciplinary Behavioral Studies (ICP-IBS) yang diadakan setiap dua tahun sekali (tiap tahun genap).</p>en-USprosiding psikologiCover, Dewan Redaksi, Daftar Isi, dan Kata Pengantar
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/436
<p>.</p>Temu Ilmiah Nasional (TIN) 2023
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-03201Peran Kecerdasan Emosi terhadap Fear Of Missing Out (FOMO) pada Mahasiswa Pencari Pekerjaan Magang melalui Aplikasi Linkedin
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/437
<p>Penelitian ini memiliki tujuan untuk meneliti peran kecerdasan emosi terhadap <em>fear of missing out </em>(FoMO) pada mahasiswa pencari pekerjaan magang melalui aplikasi Linkedin. Responden dalam penelitian ini merupakan mahasiswa pengguna aktif Linkedin berusia 18-25 tahun sebanyak 205 orang yang didapatkan melalui teknik <em>non-probability web survey. </em>Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah <em>The Online Fear of Missing Out Inventory </em>(<em>ON-FoMO</em>) yang dikembangkan oleh Sette et al. (2020) untuk mengukur variabel <em>fear of missing out </em>dan <em>Emotional Intelligence Scale </em>dari Schutte (1998) untuk mengukur variabel kecerdasan emosi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Linear Sederhana. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa kecerdasan emosi tidak berperan secara signifikan terhadap perilaku <em>fear of missing out. </em>Saran pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan konteks yang lain seperti <em>fresh graduate </em>untuk mendapatkan hasil yang lebih luas dan bervariasi.</p>Sysca Ardhanareswari BriliancyVinaya UntoroAisyah Syihab
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-03201316Regulasi Diri dalam Belajar Mahasiswa Penerima Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/438
<p>Sebagian orang menganggap kuliah sebagai salah satu kunci sukses menempuh karir di masa depan. Mahalnya biaya pendidikan menjadi salah satu kendala yang dihadapi untuk mewujudkan impian tersebut. Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah merupakan salah satu program beasiswa dari pemerintah yang bertujuan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat ekonomi rendah dalam mengenyam pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi. Fenomena didapati mahasiswa penerima program tersebut tidak dapat menyelesaikan perkuliahan tepat waktu bahkan mengalami putuskuliah. Padahal beasiswa sudah mencakup pembiayaan gratis uang kuliah tunggal dan tunjangan bulanan hingga lulus kuliah sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Salah satu keberhasilan dalam menempuh pendidikan tinggi adalah kemampuan regulasi diri dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat regulasi diri dalam belajar mahasiswa penerima Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Responden dalam penelitian ini berjumlah 1374 responden. Tingkat regulasi diri dalam belajar diukur dengan menggunakan kuesioner <em>The Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) </em>oleh Pintrich & De Groot, 1990 yang telah diadaptasi oleh peneliti. Hasil penelitian menggambarkan 230 partisipan amemiliki tingkat regulasi diri yang tergolong tinggi, 911 terkategori sedang dan 233 tergolong rendah. Penelitian selanjutnya perlu menggali lebih jauh variabel lain yang diduga turut memengaruhi regulasi diri mahasiswa. Pihak terkait perlu memberikan pendampingan kepada mahasiswa agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kemampuan regulasi diri dalam belajar.</p>Farida AiniRizky Qastrunada FitriaElida Syahriati
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032011727Kepuasan Kerja Pegawai Wanita yang Menjalani Long-Distance Marriage di Lapas Perempuan
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/439
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan kerja pegawai yang menjalani <em>long- distance marriage </em>di Penjara Perempuan. Penjara merupakan tempat untuk membina narapidana sampai selesai menjalani masa tahanan, pegawai bertugas untuk mempersiapkan narapidana kembali ke lingkungan masyarakat. Selain mengemban tugasdi penjara, pegawai wanita yang menjalani <em>Long distance marriage </em>memiliki tanggung jawab lebih dalam mengurus pekerjaan rumah dan keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek utama berjumlah empat orang yang merupakan pegawai perempuan yang sudah menikah dan berhubungan jarak jauh dengan pasangan. Ada delapan orang informan lain yang terdiri dari rekan kerja, narapidana dan staff kepegawaian penjara perempuan. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan data penelitian dapat disimpulkan bahwa keempat subjek sudah merasa puas dalam bekerja yang tampak dari tanggung jawab subjek melaksanakan pekerjaannya, subjek merasa nyaman dengan lingkungan kerja, serta adanya dukungan kerja baik dari atasan maupun rekan kerja. Rasapuas ini yang menyebabkan subjek tetap bertahan dengan posisi pekerjaannya sekarang. Rekan kerja merupakan hal yang paling berpengaruh dalam kepuasan kerja subjek hal ini tampak Ketika subjek percaya dan bercerita tentang masalah yang dialami kepada rekan kerjanya, <em>Long distance marriage </em>membuat subjek menghargai waktu; waktu keluarga dihabiskan untuk jalan-jalan bersama</p>Tiara Tri Wulandari Listya Istiningtyas
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032012840Kaitan Academic Hardiness dengan Achievement Motivation pada Mahasiswa Semester Awal
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/440
<p>Salah satu keterampilan yang perlu dikuasai di era digital yaitu <em>human skill </em>atau <em>soft skill</em>. Tentunya beragam <em>soft skill </em>yang dimiliki individu, seperti mengelola atau mengontrol diri, komitmen untuk tuntas mengerjakan suatu tugas, dan sebagainya. Hal ini merupakan di antara aspek yang terdapat pada individu yang memiliki <em>hardiness </em>yang tinggi. Dalam konteks pendidikan, <em>academic hardiness </em>sangat dibutuhkan terutama di era digital agar individu dapat terus mengasah kemampuannya. Namun demikian, dengan kondisi perubahan akibat pandemi, kegiatan pembelajaran mengalami perubahan. Proses perubahan pembelajaran dari sepenuhnya daring menjadi <em>hybrid </em>membuat para mahasiswa perlu melakukan adaptasi. Pembelajaran secara luring membuat mahasiswa harus kembali datang ke kampus, melaksanakan ujian dan pembelajaran melalui tatap muka. Hal tersebut memberikan perubahan pada mahasiswa, yang dapat saja terkait dengan semangat dan daya juang mahasiswa dalam proses belajar termasuk memperoleh prestasi. Daya juang, semangat, dan dorongan mahasiswa untuk memperoleh prestasi dalam konstruk psikologi disebut <em>achievement motivation</em>. Penelitian ini mengidentifikasi kaitan <em>academic hardiness </em>dengan <em>achievement motivation </em>pada mahasiswa semester awal. Penelitian dilakukan pada tahun 2022 di salah satu universitas swasta di Jakarta Barat, dan melibatkan sebanyak 216 mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara <em>academic hardiness </em>dan <em>achievement motivation</em>. <em>Academic hardiness </em>dan kaitannya dengan motivasi merupakan kemampuan yang dibutuhkan oleh pekerjaan apapun, terutama sikap yang membuat individu mampu menghadapi tantangan dan stres dengan tetap berfokus pada tujuan.</p>Rahmah HastutiChandra SusantoJosephine Anabel Fransiska Angelika
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032014148Peran Grit terhadap Subjective Well-Being in School Pelajar Perantau Sekolah Menengah Pertama di Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/441
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran <em>grit </em>terhadap <em>subjective well-being in school </em>pelajar sekolah menengah pertama yang merantau di Nanga Taman. Responden diperoleh dengan memberikan kuesioner yang telah dicetak kepada seluruh pelajar SMPN 01 dan SMP Suparna yang merantau sebanyak 112 pelajar. <em>Grit </em>diukur menggunakan <em>Grit Scale for Children and Adult </em>(GSCA). S<em>ubjective well-being in school </em>diukur menggunakan <em>Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale </em>(BASWBSS). Data penelitian dianalisis dengan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan <em>grit </em>berperan terhadap <em>subjective well-being in school </em>pelajar perantau sekolah menengah pertama di Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.</p>Maria Hasti KartikaAully GrashintaFarida Aini
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032014961Intergenerational Employees Gap and Negative Workplace Gossip: Autoethnography on Buddhist Mindful Leadership
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/442
<p><em>Creating healthy work environments with a generational gap is a primary problem for almost all organizational institutions. Differences in the perspective of work motivation and work collaboration style cause psychological conflict frictions. This article uses the perspective of social psychology with the autoethnographic method, a record of the author's reflection while a manager in a higher education institution. The article summarizes work-life from a leadership perspective: First, the gap between generations causes the emergence of negative workplace gossip, which reduces job performance and affects decision-making as a manager so as not to get stuck in a like- dislike perspective. Second, the leader uses the method of building distance to minimize gossip between colleagues and staff by using the Vipassana ethic of mindfulness and the Javanese philosophical ethos with the Mbisu Practice or Noble Silence in Buddhism. Leaders limitedly discuss the subjective view on the character of colleagues, only related to decision-making relationships. This strategy is carried out by not responding to negatively indicated gossip unrelated to work. Third, mindful leadership can create a working climate that reduces the generation gap but has weaknesses, namely a negative stigma on the leader himself, who is considered unable to blend into a communal culture, as well as a pragmatic work climate based on duties and functions so that leaders cannot instruct work outside their primary duties.</em></p>Fuji Riang Prastowo
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032016271Pengaruh Environmental Attitude dan Perceived Behavior Control terhadap Pro-Environmental Behavior pada Pengguna Transportasi Online di DKI Jakarta
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/443
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh <em>environmental attitude </em>dan <em>perceived behavior control </em>terhadap <em>pro-environmental behavior </em>pada pengguna transportasi <em>online </em>di DKI Jakarta. responden pada penelitian ini diperoleh dengan menggunakan kuesioner online pada pengguna transportasi online di DKI Jakarta berjumlah 203 orang dengan teknik <em>purpossive sampling</em>. <em>Environmental attitude </em>diukur menggunakan <em>New Ecological Paradigm </em>(NEP) <em>Scale </em>yang dikembangkan oleh Dunlap et al. (2000). <em>Perceived behavior control </em>diukur menggunakan <em>Perceived behavior control </em>(PBC) <em>Scale </em>yang dikembangan oleh Kidwell & Jewell (2003). <em>Pro-environmental behavior </em>diukur menggunakan <em>Pro-environmental behavior </em>(PEB) <em>Scale </em>yang dikembangkan oleh Larson et al. (2015). Data pada penelitian ini dianalisis dengan teknik regresi berganda. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat pengaruh secara signifikan dari <em>environmental attitude </em>terhadap <em>pro-environmental behavior </em>pada pengguna transportasi online di DKI Jakarta. Terdapat pengaruh yang signifikan <em>perceived behavior control </em>terhadap <em>pro-environmental behavior </em>pada pengguna transportasi <em>online </em>di DKI Jakarta. Terdapat pengaruh yang signifikan <em>environmental attitude </em>dan <em>perceived behavior </em>secara bersama-sama terhadap <em>pro-environmental behavior </em>pada pengguna transportasi <em>online </em>di DKI Jakarta.</p>Silverius Y. SoeharsoZulvan Adnan
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032017280Pengaruh Environmental Knowledge terhadap Pro-Environmental Behavior yang Dimediasi oleh Organizational Trust pada Karyawan di DKI Jakarta
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/444
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi pengaruh antara <em>environmental knowledge </em>terhadap <em>pro-environmental behavior </em>yang dimediasi oleh <em>organizational trust </em>pada karyawan DKI Jakarta. Pada penelitian ini responden yang digunakan sebanyak 200 orang, diperoleh dari kuesioner <em>online </em>dengan teknik <em>accidental sampling</em>. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu <em>Pro-Environmental Behavior Scale </em>untuk mengukur <em>pro-environmental behavior</em>, <em>Environmental Knowledge Scale </em>untuk mengukur <em>environmental knowledge</em>, dan <em>Organizational Trust Inventory </em>untuk mengukur <em>organizational trust</em>. Dalam analisis penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi F Hayes. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu bahwa <em>environmental knowledge </em>memiliki pengaruh signifikan negatif terhadap <em>pro-environmental behavior</em>, tidak terdapat pengaruh secara signifikan antara <em>environmental knowledge </em>terhadap <em>organizational trust</em>, dan <em>organizational trust </em>tidak memediasi pengaruh <em>environmental knowledge </em>terhadap <em>pro-environmental behavior</em>.</p>Silverius Y. SoeharsoDita Wahyuningsih
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-032018191Hubungan antara Regulasi Emosi Interpersonal dengan Work Family Conflict pada Ibu yang Bekerja
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/445
<p>Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada 2022 sebesar 53,41 persen atau meningkat 0,28 persen dibandingkan pada tahun 2020. Tugas sebagai ibu yang bekerja menjadi lebih banyak (sebagai seorang ibu, istri dan memiliki tanggung jawab pekerjaan di kantor). <em>Work family conflict </em>menyebabkan emosi negatif. Pengaruh sosial menjadi salah satu pembentukan emosi, sehingga muncul sebuah konsep regulasi emosi interpersonal. Tujuan penelitian: mengetahui hubungan antara regulasi emosi interpersonal dengan <em>work family conflict </em>pada ibu yang bekerja. Menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik sampling <em>non probability sampling</em>, dengan 120 partisipan. Kriteria responden: wanita bekerja, berusia 20-40 tahun, sudah menikah, memiliki suami, memiliki anak usia di bawah 18 tahun, pendidikan minimal SMA, dan minimal usia pernikahan 2 tahun. Alat ukur: <em>Work Family Conflict Scale </em>(WFCS) milik Carlson dkk (2000) <em>dan Interpersonal Emotion Regulation Questionnaire </em>(IERQ) milik Hofmann (2016). Teknik analisis: <em>Pearson Product Moment</em>. Hasil: terdapat hubungan negatif yang signifikan antara regulasi emosi interpersonal dengan <em>behavior based work interference with family </em>dan <em>behavior based family interference with work </em>pada ibu yang bekerja. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara regulasi emosi interpersonal dengan keempat dimensi <em>work family conflict </em>lainnya. Kesimpulan: tidak adanya hubungan yang signifikan antara regulasi emosi interpersonal dengan <em>work family conflict </em>pada ibu bekerja.</p>Syifa Fadhillah EvanythaAndri Setia Dharma
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-0320192109FOMO dan Keinginan Pelanggan Muda Netflix untuk Kembali Berlangganan
https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/446
<p>Fakta yang ada menunjukkan kalau jumlah pelanggan layanan <em>streaming </em>Netflix masih salah satu yang terbanyak di dunia. Data menunjukkan demografi pelanggan layanan ini berada pada tahap perkembangan dewasa muda (<em>early adulthood</em>). Fenomena ini menunjukkan perilaku <em>repurchased intention </em>dari pelanggan Netflix masih sangat kuat meski adanya asumsi mereka sudah menyelesaikan serial yang mereka tonton. Bagi individu-individu yang belum berlangganan akan menimbulkan efek psikologis yang dinamakan <em>Fear of Missing Out </em>(FoMO). Karakteristik partisipan merupakan individu yang berlangganan Netflix minimal dalam kurun waktu 6 bulan dan berusia 18 – 34 tahun. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 116 responden. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur FoMO yaitu <em>Fear of Missing Out Scale </em>oleh Wegmann, Oberst, Stodt, dan Brand (2017). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur <em>repurchase intention </em>yaitu <em>customer repurchase intention </em>oleh Hellier, Geursen, Carr, dan Rickard (2003). Hasil dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara <em>fear of missing out </em>dengan <em>repurchase intention </em>pada <em>emerging adult </em>pelanggan layanan <em>streaming netflix</em></p>M. Ramadhana ReksoprodjoRizky Qastrunada FatriaAngga Adi SaputraBalqis NashitaCindy Febriani Thalia
Copyright (c) 2026 prosiding psikologi
2025-11-032025-11-03201110119