https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/issue/feedprosiding psikologi2026-03-30T07:01:19+00:00Temu Ilmiah Nasional (TIN)tinfpsi@univpancasila.ac.idOpen Journal Systems<p>Prosiding Temu Ilmiah Nasional merupakan sebuah platform atau media publikasi untuk luaran hasil dari Konferensi Ilmiah yang diadakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Pancasila yaitu Temu Ilmiah Nasional (TIN) yang diadakan setiap dua tahun satu kali (tiap tahun ganjil).</p>https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/486Cover, Dewan Redaksi, Daftar Isi, dan Kata Pengantar2026-03-13T04:05:03+00:00Temu Ilmiah Nasional (TIN) 2025tinfpsi@univpancasila.ac.id<p>.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/487Implementasi Civic Virtue dalam Pendidikan Karakter Berbasis Psikologi Positif sebagai Pilar Transformasi Pendidikan2026-03-13T04:09:07+00:00Fakhrul Kurniawan fakhrul.kurniawan56@guru.sma.belajar.id<p>Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut perubahan paradigma dari orientasi akademik menuju pembentukan karakter dan keadaban warga negara (<em>civic virtue</em>) yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan konsep <em>civic virtue</em> dengan prinsip-prinsip psikologi positif dalam model pendidikan karakter khususnya pada Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai strategi transformasi pendidikan di Indonesia. Metode yang digunakan adalah <em>Systematic Literature Review</em> (SLR) terhadap artikel ilmiah terindeks nasional dan internasional dalam rentang 2019–2025 yang menghasilkan 21 artikel relevan dari hasil pencarian 186 artikel. Hasil kajian menunjukkan bahwa <em>civic virtue</em> merepresentasikan keadaban sosial seperti tanggung jawab, keadilan, dan kepedulian publik yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Di sisi lain, psikologi positif melalui model PERMA dan pendekatan <em>character strengths</em> berkontribusi dalam menumbuhkan kebahagiaan, resiliensi, serta motivasi intrinsik peserta didik. Integrasi keduanya menghasilkan paradigma pendidikan yang holistik dan humanistik, menumbuhkan warga negara yang berintegritas sekaligus sejahtera secara psikologis. Model implementasi yang diusulkan mencakup enam komponen utama: (1) integrasi <em>civic virtue</em> dalam kurikulum berbasis <em>project based learning </em>dan <em>service learning</em>, (2) penguatan kekuatan karakter melalui praktik positif, (3) pembangunan budaya sekolah demokratis dan partisipatif, (4) keterlibatan komunitas dan orang tua, (5) penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah, serta (6) dukungan kebijakan dan evaluasi berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dalam pengembangan pendidikan karakter berbasis keadaban dan kesejahteraan, serta secara praktis menyediakan model konseptual yang adaptif terhadap konteks budaya Indonesia khususnya pada tingkatan Sekolah Menengah Atas.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/488Gambaran Latar Belakang Kebutuhan (Needs) Pekerja Migran Indonesia dalam Memahami Motivasi Bekerja ke Luar Negeri2026-03-16T01:58:39+00:00Sekar Titisani Setiadi sekartitisani@yahoo.com<p>Kerja ke luar negeri menjadi pilihan menghadapi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan sulitnya mencari kerja di dalam negeri. Di sisi lain, bekerja di luar negeri bukanlah hal mudah karena banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) merasa tidak betah dan ingin pulang saat bekerja di sana. Oleh karena itu, perlu ditelisik kembali motivasi bekerja di luar negeri. Dengan mengetahui gambaran kebutuhan (<em>needs</em>) yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, maka dapat dipahami secara lebih jelas motivasi yang mendorong pencapaian tujuan bekerja di luar negeri berdasarkan pendekatan Teori <em>Goal Setting </em>yang dikemukakan Locke & Latham<em>, </em>sehingga PMI akan dapat lebih memiliki performa yang lebih terjaga dan juga sehat mental di tengah situasi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kuantitatif studi deskriptif dengan pemberian survei kepada 150 orang Calon Pekerja Migran Indonesia dalam mengetahui gambaran latar belakang kebutuhan (<em>needs</em>) bekerja ke luar negeri. Hasil menunjukkan bahwa gambaran umum latar belakang kebutuhan (<em>needs</em>) PMI dalam bekerja ke luar negeri adalah untuk memenuhi kebutuhan keamanan kondisi finansial, terutama perekonomian keluarga. Maka, motivasi PMI dapat dikuatkan, rekomendasi praktisnya dapat berbentuk pemberian edukasi dan pendampingan terkait pengelolaan keuangan secara berkala. Dengan pengelolaan keuangan yang realistis, diharapkan motivasi dalam pencapaian tujuan dan performa kerja saat di luar negeri semakin meningkat, serta kesehatan mental terjaga. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam proses pengambilan dan pengolahan data yang sederhana. Di sisi lain, studi ini menawarkan perspektif baru dalam memahami motivasi PMI melalui gambaran kebutuhan (<em>needs</em>). Dengan segala keterbatasan, kami membuka masukan untuk meningkatkan kualitas penelitian agar dapat bermanfaat bagi PMI secara menyeluruh.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/489Strategi Pembelajaran Karakter Pencegahan Kekerasan Berbasis Nilai Budaya Pendidikan Anak Usia Dini2026-03-16T02:04:01+00:00Muhammad Akil Musim.akil.musi@unm.ac.idMuhammad Yusri Bachtiaryusribachtiar@yahoo.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran karakter pencegahan kekerasan berbasis nilai budaya dalam pendidikan anak usia dini. Masalah penelitian berangkat dari fenomena meningkatnya perilaku agresif pada anak yang menunjukkan lemahnya pengendalian emosi serta kurangnya penanaman nilai karakter sejak dini. Partisipan penelitian terdiri atas dua guru dan dua puluh anak kelompok B (usia 5–6 tahun) di TK Taman PAUD Doa Ibu, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai budaya lokal Makassar seperti <em>sipakatau</em> (memanusiakan sesama) dan <em>siri’</em> (harga diri) efektif dalam membentuk karakter antikekerasan anak. Strategi pembelajaran yang diterapkan meliputi kegiatan bercerita, bermain peran, kegiatan seni, diskusi kelompok, dan aktivitas luar ruangan yang menumbuhkan empati, kerja sama, serta kemampuan mengelola emosi. Selain itu, keterlibatan orang tua dan masyarakat berperan penting dalam memperkuat pembentukan karakter secara berkelanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa integrasi nilai budaya lokal dalam pembelajaran karakter merupakan pendekatan efektif dan kontekstual dalam pencegahan kekerasan pada anak usia dini.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/490Viktimisasi Perundungan pada Siswa Indonesia: Peran Regulasi Emosi dan Rasa Memiliki Sekolah2026-03-16T02:09:13+00:00Fasti Rola fastirola@usu.ac.idTarmindi Dadeh tarmindidadeh@yahoo.comFilia Dina Anggaraeni filiadina@yahoo.comMuhammad Rozan Alfarisi rozanalfarisi@yahoo.com<p>Perundungan di lingkungan sekolah masih menjadi permasalahan serius di Indonesia dan berdampak pada kesejahteraan psikologis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran regulasi emosi sebagai faktor internal dan rasa memiliki terhadap sekolah sebagai faktor eksternal dalam memprediksi risiko peserta didik menjadi korban perundungan. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan analisis data sekunder dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2022. Data PISA 2022 menyediakan data yang reliabel dengan motodologi pengumpulan data penelitian sudah terstandar internasional. Sampel penelitian terdiri atas 12.385 peserta didik Indonesia berusia 15 hingga 16 tahun. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi signifikan secara statistik, F(2, 12.382) = 192,283, p < .001, dengan nilai R² = .030. Regulasi emosi (β = –0,099, p < .001) dan rasa memiliki terhadap sekolah (β = –0,127, p < .001) berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kecenderungan peserta didik menjadi korban perundungan. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kemampuan regulasi emosi dan rasa keterikatan terhadap sekolah, maka semakin rendah risiko peserta didik mengalami viktimisasi perundungan. Implikasi dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya penerapan program pendidikan emosi serta intervensi terhadap iklim sekolah secara menyeluruh guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/491Generasi Z dan Makna Baru Intimasi: Pergeseran Nilai dalam Pernikahan, Relasi, dan Keluarga2026-03-16T02:19:36+00:00Maharani Ardi Putriputrilangka@univpancasila.ac.idAndri Setia Dharma andrisetia@univpancasila.ac.id<p>Transformasi nilai sosial, perkembangan teknologi, dan luasnya akses informasi telah membentuk cara Generasi Z memaknai relasi intimasi, institusi pernikahan dan keluarga. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pandangan Generasi Z terhadap pernikahan sebagai institusi sosial, persepsi mereka tentang keluarga dan pembagian peran gender, serta menelaah fenomena seks pranikah, keberagaman orientasi seksual, dan keputusan <em>childfree</em> sebagai refleksi perubahan paradigma nilai. Partisipan penelitian berjumlah 1.303 individu dalam rentang usia 19-27 tahun dan berdomisili di wilayah Jakarta, Depok, Bekasi. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data melalui survei daring dan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan masih dipandang penting, namun bukan lagi bersifat wajib. Keputusan untuk menikah sangat dipengaruhi kesiapan emosional, stabilitas finansial, dan pencapaian tujuan hidup personal. Di sisi lain, terdapat kecenderungan menuju pola relasi yang lebih egaliter dalam pengasuhan anak dan pembagian peran rumah tangga, meskipun nilai tradisional terkait peran suami sebagai pencari nafkah dan istri sebagai pihak yang mengelola rumah tangga tetap kuat. Fenomena <em>childfree</em> dan keterbukaan terhadap orientasi seksual non-heteronormatif tampak meningkat, tetapi belum dominan. Pada penelitian ini tampak bahwa Generasi Z memaknai pernikahan secara fleksibel dan selektif, mengombinasikan nilai tradisional dan progresif dengan orientasi pada keseimbangan relasional serta kualitas hidup</p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/492“How Can We Survive?”: Peran Intolerance of Uncertainty terhadap Future Anxiety pada Generasi Z Fase Emerging Adulthood2026-03-16T02:55:50+00:00Wida Nurbadriahwidanurbadriah01@gmail.comAstri Firdasannahfirdasannah@yahoo.comCahyaning Widhyastutiwidhyastuti@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Gen Z merupakan generasi pertama yang benar-benar tumbuh di era perkembangan teknologi digital. Akibatnya, Gen Z tidak dapat terhindar dari dampak dari perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat. Saat ini, Gen Z umumnya tengah berada pada fase </span><em><span style="font-weight: 400;">emerging adulthood</span></em><span style="font-weight: 400;">. Fase </span><em><span style="font-weight: 400;">emerging adulthood</span></em><span style="font-weight: 400;"> merupakan periode transisi menuju dewasa awal yang kerap disertai oleh ketidakpastian, terutama pada Gen Z yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang dapat memicu </span><em><span style="font-weight: 400;">future anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;">. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh </span><em><span style="font-weight: 400;">intolerance of uncertainty</span></em><span style="font-weight: 400;"> terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">future anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada Gen Z yang berada pada fase </span><em><span style="font-weight: 400;">emerging adulthood</span></em><span style="font-weight: 400;">. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear sederhana. Partisipan berjumlah 336 orang menggunakan </span><em><span style="font-weight: 400;">purposive sampling</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan kriteria yaitu Gen Z yang berstatus sebagai mahasiswa aktif atau </span><em><span style="font-weight: 400;">fresh graduate</span></em><span style="font-weight: 400;">, berusia 18-25 tahun, dan tidak sedang bekerja. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah IUS-12 (</span><em><span style="font-weight: 400;">Intolerance of uncertainty Scale</span></em><span style="font-weight: 400;">-12) dan FAS (</span><em><span style="font-weight: 400;">Future Anxiety Scale</span></em><span style="font-weight: 400;">) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">intolerance of uncertainty</span></em><span style="font-weight: 400;"> berpengaruh positif terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">future anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;"> (p<0,05; β = 2.170; r = 0,311) dengan besar pengaruh yaitu sebesar 31,1%. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi </span><em><span style="font-weight: 400;">intolerance of uncertainty</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang dialami oleh Gen Z fase </span><em><span style="font-weight: 400;">emerging adulthood</span></em><span style="font-weight: 400;">, maka akan semakin tinggi </span><em><span style="font-weight: 400;">future anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang mereka alami. Penelitian ini dapat berimplikasi pada penguatan teori dan mengisi kekurangan dalam literatur dengan menyajikan data empiris yang jelas mengenai peran </span><em><span style="font-weight: 400;">intolerance of uncertainty</span></em><span style="font-weight: 400;"> dalam memprediksi tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">future anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada fase </span><em><span style="font-weight: 400;">emerging adulthood.</span></em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/493Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Mendorong Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis Nilai Budaya Lokal2026-03-16T03:06:30+00:00Mikael Emi Bernadus purekmichy@gmail.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan transformasional dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi berbasis kearifan lokal, dengan fokus pada nilai-nilai budaya lokal masyarakat Sikka di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Permasalahan utama yang diangkat adalah masih terbatasnya integrasi nilai budaya lokal ke dalam praktik kepemimpinan dan tata kelola perguruan tinggi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah </span><em><span style="font-weight: 400;">literature review</span></em><span style="font-weight: 400;"> melalui telaah berbagai artikel jurnal, buku, dan laporan penelitian yang relevan. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola hubungan antara kepemimpinan transformasional, nilai budaya lokal, dan kinerja institusi pendidikan tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional, melalui dimensi </span><em><span style="font-weight: 400;">idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation,</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">individualized consideration,</span></em><span style="font-weight: 400;"> mampu mendorong perubahan budaya organisasi dan meningkatkan daya saing perguruan tinggi. Nilai-nilai lokal di Sikka, terutama </span><em><span style="font-weight: 400;">kula babong</span></em><span style="font-weight: 400;"> dapat dipadukan dengan prinsip kepemimpinan transformasional sehingga memperkuat identitas institusi sekaligus menjawab tuntutan perubahan zaman. Keterbatasan penelitian ini adalah masih berbasis literatur sehingga diperlukan verifikasi empiris di lapangan. Namun demikian, temuan ini berkontribusi bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam merancang model kepemimpinan pendidikan tinggi yang kontekstual dan berakar pada kearifan lokal. Orisinalitas penelitian ini terletak pada integrasi teori kepemimpinan transformasional dengan kearifan lokal Sikka di Flores sebagai pendekatan baru yang relatif belum dieksplorasi, serta membuka peluang penelitian lanjutan berbasis empiris di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/494Attachment Father, Mother, dan Peer: Perannya Membentuk Emotional Intelligence Siswa SMK X di Kabupaten Tangerang 2026-03-16T03:09:29+00:00Rafa' Thahirah Hernawatirafathahirah78@gmail.comSiti Rahmawatisitirahmawati@yahoo.comAdiyo Roebiantoroebianto@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Masa remaja merupakan fase penting dalam perkembangan individu yang ditandai dengan perubahan fisik, sosial, dan emosional yang signifikan. Pada tahap ini, kemampuan dalam mengelola emosi atau </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;"> menjadi aspek penting untuk membantu remaja menghadapi tekanan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa sebagian siswa SMK cenderung mengalami ketidakstabilan emosi, seperti mudah marah, sulit bekerja sama, dan kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat, terutama ketika hubungan dengan orang tua atau teman sebaya kurang harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh </span><em><span style="font-weight: 400;">attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">father</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">mother</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">peer</span></em><span style="font-weight: 400;"> terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;"> siswa SMK X di Kabupaten Tangerang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Partisipan berjumlah 150 siswa (56 laki-laki dan 94 perempuan) yang dipilih melalui teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">proportionate stratified random </span></em><span style="font-weight: 400;">sampling. Instrumen yang digunakan mengacu pada teori Goleman untuk mengukur </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;"> serta teori Armsden dan Greenberg untuk mengukur </span><em><span style="font-weight: 400;">parents attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">peer attachment</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil analisis menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">attachment</span></em> <em><span style="font-weight: 400;">father</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">mother</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">peer</span></em><span style="font-weight: 400;"> secara simultan berpengaruh signifikan terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;"> siswa SMK X (F = 3,774; p = 0,012; p < 0,05). Namun, secara parsial, ketiga bentuk </span><em><span style="font-weight: 400;">attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;">. Temuan ini menegaskan pentingnya hubungan emosional yang positif dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">father</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">mother</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">peer</span></em><span style="font-weight: 400;"> dalam perkembangan </span><em><span style="font-weight: 400;">emotional intelligence</span></em><span style="font-weight: 400;"> remaja, meskipun kontribusi masing-masing </span><em><span style="font-weight: 400;">attachment</span></em><span style="font-weight: 400;"> secara individual belum terbukti dominan.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/495Pengaruh Pola Asuh Otoritatif dan Interaksi Teman Sebaya terhadap Konsep Diri Siswa SMKN 26 Jakarta2026-03-26T02:06:52+00:00Farah Adinda Ramadhanifarahadinda@yahoo.comAnisa Rahmadani anisa.rahmadani@uai.ac.id<p><span style="font-weight: 400;">Masa remaja merupakan tahap perkembangan penting bagi pembentukan identitas dan konsep diri yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan sosial. Pola asuh otoritatif, yaitu pola pengasuhan yang mengombinasikan kontrol tegas dengan kehangatan dan komunikasi dua arah, serta interaksi teman sebaya yang suportif, merupakan dua faktor yang berkontribusi dalam membentuk konsep diri positif pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoritatif orang tua dan interaksi teman sebaya terhadap konsep diri remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melibatkan 110 siswa kelas 11 (usia 16–18 tahun) dari berbagai jurusan. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang mengukur tiga variabel utama, yaitu pola asuh otoritatif, interaksi teman sebaya, dan konsep diri. Analisis data meliputi uji validitas, reliabilitas, uji asumsi klasik, serta regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan secara simultan antara pola asuh otoritatif orang tua dan interaksi teman sebaya terhadap konsep diri siswa (F = 55,780; p < 0,001). Secara parsial, baik pola asuh otoritatif (p < 0,05) maupun interaksi teman sebaya (p < 0,05) memberikan pengaruh signifikan terhadap konsep diri. Koefisien determinasi sebesar 0,510 menunjukkan bahwa kedua variabel bebas tersebut bersama-sama dapat menjelaskan 51% variasi konsep diri siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya kombinasi dukungan orang tua yang responsif dan hubungan sosial positif dengan teman sebaya dalam pembentukan konsep diri remaja. Penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi orang tua, guru, serta praktisi bimbingan dan konseling dalam merancang program pengembangan diri yang efektif berbasis lingkungan keluarga dan sosial.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/496Pendekatan System Thinking untuk Mengungkap Dinamika Inflasi IPK dan Kesenjangan Kompetensi Akademik di Perguruan Tinggi2026-03-26T02:16:06+00:00I Gusti Ayu Agung Istri Risna Prajna Devii.gusti.ayu.agung-2025@psikologi.unair.ac.idAdila Shabira Nurfaizahadilashabira@yahoo.comAldan Abdul Harisaldanabdul@yahoo.comNadiya Tri Aryaninadiyatri@yahoo.comWa Ode Sitti Israwatiwaodesitti@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Fenomena inflasi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di perguruan tinggi Indonesia menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem penilaian akademik yang berpotensi menimbulkan kesenjangan keadilan di lingkungan pendidikan tinggi. Studi ini bertujuan untuk memetakan dinamika sistemik penyebab inflasi IPK serta menelaah implikasinya terhadap persepsi keadilan akademik (</span><em><span style="font-weight: 400;">academic fairness perception</span></em><span style="font-weight: 400;">) dan kompetensi mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan </span><em><span style="font-weight: 400;">system thinking</span></em><span style="font-weight: 400;"> berbasis data sekunder, dengan menganalisis dokumen hasil pemetaan sistem dan literatur konseptual yang relevan. Analisis dilakukan melalui identifikasi elemen sistem, relasi sebab-akibat, </span><em><span style="font-weight: 400;">feedback loop</span></em><span style="font-weight: 400;">, serta pengenalan </span><em><span style="font-weight: 400;">system traps</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang memperkuat perilaku tidak adaptif dalam ekosistem akademik. Hasil analisis menunjukkan bahwa inflasi IPK dipengaruhi oleh </span><em><span style="font-weight: 400;">system trap</span></em><span style="font-weight: 400;"> seperti </span><em><span style="font-weight: 400;">seeking the wrong goal</span></em><span style="font-weight: 400;"> (orientasi pada angka, bukan kompetensi), </span><em><span style="font-weight: 400;">shifting the burden</span></em> <em><span style="font-weight: 400;">to the intervenor</span></em><span style="font-weight: 400;"> (penyesuaian nilai sebagai solusi semu terhadap tekanan institusional), dan </span><em><span style="font-weight: 400;">drift to low performance</span></em><span style="font-weight: 400;"> (penurunan standar akademik secara bertahap). Pola sistemik tersebut menurunkan persepsi keadilan mahasiswa, mengikis motivasi intrinsik, serta melemahkan kepercayaan terhadap validitas IPK sebagai indikator kompetensi. Kajian ini menegaskan pentingnya reformasi sistem evaluasi akademik yang berlandaskan transparansi, asesmen autentik, dan pembelajaran berkeadilan sebagai strategi penguatan kualitas sumber daya manusia di pendidikan tinggi Indonesia.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/497Hubungan Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial dengan Kecenderungan Academic Burnout pada Mahasiswa Kota Samarinda Di Era Digital2026-03-26T02:31:05+00:00Melinda Ajeng Anjilika2111102433096@umkt.ac.idMuslimin Nulipatamuslimnulipata@yahoo.comIndo Sennangindosennang@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Tingginya penggunaan media sosial sebagai mekanisme pelarian dari tekanan akademik mengindikasikan pola penggunaan berlebihan di kalangan mahasiswa, yang berpotensi berdampak negatif pada kesehatan mental, terutama risiko </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;">. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan kecenderungan </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada mahasiswa di kota Samarinda di era digital. Metode ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini melibatkan 404 mahasiswa sebagai sampel yang dipilih melalui teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">incindental sampling</span></em><span style="font-weight: 400;">. Data diperoleh dari kuesioner yang mengukur intensitas penggunaan media sosial dan tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel, dengan koefisien korelasi </span><em><span style="font-weight: 400;">Spearman</span></em><span style="font-weight: 400;"> sebesar 0,504 (p = 0,000), yang menandakan hubungan yang cukup kuat. Mayoritas mahasiswa (67%) menujukkan intensitas penggunaan media sosial sedang, sedangkan kecenderungan </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;"> terdistribusi pada kategori rendah (43%), sedang (22%), dan tinggi (35%). Temuan ini memperkuat bahwa penggunaan media sosial yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;">. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan kecenderungan </span><em><span style="font-weight: 400;">academic burnout</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada mahasiswa di kota Samarinda. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengelola waktu dan pola penggunaan media sosial untuk menghindari gangguan terhadap aktivitas akademik dan menjaga kesehatan mental.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/498Model Pengembangan Kompetensi SDM Kearsipan dalam Menghadapi Transformasi Digital untuk Mendukung Reformasi Birokrasi Pendidikan2026-03-26T02:43:36+00:00Najwa Zafira Rizka Amelia Putrinajwazafirapolinema@gmail.comDini Resmitadiniresmita@yahoo.comNajwa Zafira Rizka Amelia Putrinajwazafirapolinema@gmail.com<p><span style="font-weight: 400;">Transformasi digital dalam pengelolaan arsip menuntut perubahan signifikan pada kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) kearsipan, khususnya di sektor pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pengembangan kompetensi SDM kearsipan yang relevan dan adaptif terhadap implementasi e-Arsip guna mendukung Reformasi Birokrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode </span><em><span style="font-weight: 400;">Systematic Literature Review (SLR)</span></em><span style="font-weight: 400;">, dengan sumber data berupa literatur ilmiah, kebijakan nasional, serta dokumen peraturan yang dikeluarkan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Partisipan penelitian adalah dokumen dan hasil penelitian yang berfokus pada kompetensi arsiparis, manajemen arsip digital, dan kebijakan kearsipan di lingkungan pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi e-Arsip sangat bergantung pada kesiapan dan kompetensi SDM kearsipan. Terdapat kesenjangan kompetensi yang signifikan di tingkat sekolah dan dinas pendidikan akibat terbatasnya pelatihan dan kurangnya sertifikasi profesi berbasis digital. Berdasarkan sintesis literatur, model pengembangan kompetensi yang ideal mencakup tiga komponen utama: peningkatan kualifikasi formal dan sertifikasi profesi di bawah koordinasi ANRI, pelatihan praktis berbasis skenario sektor pendidikan sesuai NPSK, serta penguatan regulasi internal melalui SOP digital. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa investasi pada pengembangan kompetensi SDM kearsipan merupakan kunci utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan pendidikan yang transparan, akuntabel, dan berdaya saing di era transformasi digital.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/499Penggunaan Media Sosial untuk Meningkatkan Kesadaran mengenai Fatherless: Konten Analisis Akun Instagram @fatherman.id 2026-03-26T02:49:49+00:00Ahyaita Zahra Oviahalera Karnainahyaita23001@mail.unpad.ac.idAnnisa Noviantieannisanoviantie@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi peran ayah dalam konten akun Instagram @</span><em><span style="font-weight: 400;">fatherman.id</span></em><span style="font-weight: 400;"> sebagai salah satu bentuk kampanye digital untuk meningkatkan kesadaran mengenai fenomena </span><em><span style="font-weight: 400;">fatherless</span></em><span style="font-weight: 400;"> di Indonesia. Fenomena </span><em><span style="font-weight: 400;">fatherless</span></em><span style="font-weight: 400;"> mengacu pada kondisi ketiadaan peran ayah baik secara fisik maupun emosional dalam kehidupan anak, yang berdampak terhadap perkembangan sosial, emosional, dan akademik anak. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis konten deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 20 unggahan akun @</span><em><span style="font-weight: 400;">fatherman.id</span></em><span style="font-weight: 400;"> periode Maret–September 2025 yang dikategorikan berdasarkan tiga dimensi </span><em><span style="font-weight: 400;">Father Involvement Theory</span></em><span style="font-weight: 400;">: </span><em><span style="font-weight: 400;">engagement</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">accessibility</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">responsibility</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun @</span><em><span style="font-weight: 400;">fatherman.id</span></em><span style="font-weight: 400;"> telah menampilkan berbagai konten edukatif, informatif, dan emosional tentang peran ayah, namun secara umum </span><em><span style="font-weight: 400;">niche</span></em><span style="font-weight: 400;"> kontennya masih luas sehingga belum sepenuhnya berfokus pada isu </span><em><span style="font-weight: 400;">fatherhood</span></em><span style="font-weight: 400;">. Tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">engagement</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang rendah (0,05%) menandakan perlunya inovasi dan variasi dalam penyajian konten agar tidak monoton dan mampu menarik interaksi audiens secara lebih optimal. Dengan demikian, akun @</span><em><span style="font-weight: 400;">fatherman.id</span></em><span style="font-weight: 400;"> dapat berperan lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran ayah dan upaya mengurangi fenomena </span><em><span style="font-weight: 400;">fatherless</span></em><span style="font-weight: 400;"> di Indonesia.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/500Resiliensi Keluarga dan Stres Pengasuhan Pada Ibu Dual Career Family2026-03-26T02:56:32+00:00Ardila Safitri220541100069@student.trunojoyo.ac.idLailatul Muarofah Hanimlailatulmuarofah@yahoo.comRezkiyah Rosyidahrezkiyahrosyidah@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Perubahan peran gender di era globalisasi mendorong perempuan berperan aktif di ranah publik. Fenomena ini memunculkan konsep </span><em><span style="font-weight: 400;">dual career family</span></em><span style="font-weight: 400;">, yaitu keluarga dengan suami-istri yang sama-sama bekerja. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan peran ganda bagi ibu, karena selain bertanggung jawab terhadap pekerjaan di luar rumah, ibu tetap dituntut menjalankan peran pengasuhan dan mengurus rumah tangga. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko stres pengasuhan pada ibu. </span> <span style="font-weight: 400;">Kajian ini bertujuan untuk megetahui gambaran hubungan antara resiliensi keluarga dengan stres pengasuhan pada ibu dalam konteks keluarga karir ganda. Metode yang digunakan adalah </span><em><span style="font-weight: 400;">literature review</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan menelaah berbagai penelitian sebelumnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Hasil yang didapat dari kajian ini memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara resiliensi keluarga dan stres pengasuhan yang terjadi pada ibu dalam kondisi keluarga karir ganda. Simpulan dari hasil kajian menunjukkan bahwa ibu yang berada dalam situasi keluarga karir ganda rentan mengalami stres pengasuhan akibat tuntutan ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Resiliensi keluarga terbukti berperan penting sebagai faktor pelindung yang membantu ibu bekerja beradaptasi dan mengelola stres pengasuhan secara lebih efektif. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya pengembangan program intervensi psikologis sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan keluarga karir ganda. Hasil penelitian juga dapat menjadi dasar bagi lembaga terkait, seperti instansi kesehatan, tempat kerja, dan komunitas, untuk merancang kebijakan serta dukungan sosial yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu bekerja dan keluarga dalam kondisi rentan.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/502Otak Gen Z sebagai Aset Strategis: Neuropsikologi Pendidikan untuk Human Capital Indonesia di Panggung Dunia2026-03-30T02:54:40+00:00Tomy Octaviantomyoctavian.research@gmail.comLucy Lidiawati Santiosolucysantioso@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Generasi Z merupakan kelompok demografis terbesar di Indonesia dan menjadi tumpuan utama pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Namun, karakteristik neurokognitif dan sosial digital mereka menuntut pendekatan pendidikan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana pendekatan neuropsikologi pendidikan dapat mengoptimalkan potensi otak Gen Z sebagai aset strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM). Kajian ini merupakan </span><em><span style="font-weight: 400;">conceptual paper</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang menggunakan pendekatan </span><em><span style="font-weight: 400;">systematic narrative review</span></em><span style="font-weight: 400;"> terhadap literatur ilmiah sekunder dengan fokus temporal utama 2016–2025, disertai inklusi selektif literatur kunci periode 2000–2015 dan teori klasik sebelum tahun 2000. Penelusuran dilakukan melalui basis data </span><em><span style="font-weight: 400;">Scopus, ScienceDirect, SpringerLink</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Google Scholar</span></em><span style="font-weight: 400;"> menggunakan kata kunci terkait </span><em><span style="font-weight: 400;">neuropsychology education, Generation Z learning</span></em><span style="font-weight: 400;">, </span><em><span style="font-weight: 400;">human capital Indonesia</span></em><span style="font-weight: 400;">, dan </span><em><span style="font-weight: 400;">global competitiveness</span></em><span style="font-weight: 400;">. Secara keseluruhan, 53 sumber ilmiah dianalisis; dari jumlah tersebut, 28 artikel </span><em><span style="font-weight: 400;">peer-reviewed</span></em><span style="font-weight: 400;"> dipetakan sebagai artikel utama dalam sintesis tematik dan </span><em><span style="font-weight: 400;">concept-centric</span></em><span style="font-weight: 400;">, sementara 25 sumber pendukung (artikel konseptual, laporan lembaga internasional, dan dokumen kebijakan) digunakan untuk memperkuat konteks empiris dan analisis kebijakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa otak Gen Z ditandai oleh tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">neuroplasticity</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang relatif tinggi, respons multisensori yang cepat, serta kecenderungan belajar yang lebih visual dan interaktif. Pendekatan </span><em><span style="font-weight: 400;">brain-based learning</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan stimulasi kognitif adaptif terbukti meningkatkan konsentrasi, kreativitas, dan regulasi emosi pada peserta didik </span><em><span style="font-weight: 400;">digital-native</span></em><span style="font-weight: 400;">. Integrasi prinsip neuropsikologi dengan kebijakan pendidikan dan pengembangan SDM menghasilkan model </span><em><span style="font-weight: 400;">Neuropsychology-Based Human Capital Framework</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang memetakan hubungan antara potensi otak, pembelajaran adaptif, pembentukan karakter, dan daya saing global. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan berbasis neurosains tidak hanya memperkuat kemampuan kognitif Gen Z, tetapi juga mentransformasi mereka menjadi human capital unggul yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0 dan masyarakat 5.0. Dengan demikian, Gen Z bukan sekadar bonus demografi, melainkan aset neuropsikologis bangsa yang berperan strategis dalam mempercepat visi Indonesia Emas 2045.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/503Literasi Digital dan Peran Keluarga dalam Mendukung Kesehatan Mental Remaja: Perspektif Konseling Dakwah Digital 2026-03-30T03:02:23+00:00Nadhifah Salsabilanadhifahsalsabila17@gmail.comYulianayuliana@yahoo.comAmrianaAmriana@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan menganalisis kolaborasi antara Konseling Dakwah Digital (KDD) dan literasi digital dalam mendukung kesehatan mental serta meningkatkan kesadaran keagamaan remaja di lingkungan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam terhadap 5 orang tua dan 7 remaja (usia 13-17 tahun) dari wilayah Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. Analisis data dilakukan secara tematik dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan adanya diskrepansi signifikan dalam dukungan keluarga: orang tua cenderung memberikan dukungan solutif, sementara remaja mendesak kebutuhan akan validasi emosional dan didengarkan tanpa dihakimi. Isu stigma terkait masalah kesehatan mental lebih kuat di kalangan orang tua. Konsep KDD diterima baik, namun mayoritas partisipan lebih memilih sesi tatap muka (</span><em><span style="font-weight: 400;">offline</span></em><span style="font-weight: 400;">) daripada online. Disimpulkan bahwa KDD relevan sebagai </span><em><span style="font-weight: 400;">destigmatizer</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan jembatan spiritual, namun implementasinya perlu mempertimbangkan model hibrida yang memprioritaskan layanan tatap muka.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/504Cinta yang Mengikat, Jiwa yang Terbelenggu: Codependency dan Learned Helplessness pada Pasangan Dewasa Awal2026-03-30T03:07:07+00:00Kusumadewikusumadewi23@student.unibi.ac.idMuhammad Irfan Saeful Mu'minmumin@yahoo.comAstri Firdasannahastrifirda@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Fenomena hubungan romantis yang tidak sehat masih banyak terjadi pada dewasa awal, ditandai dengan pola ketergantungan emosional dan kesulitan melepaskan diri dari pasangan meski hubungan tersebut menimbulkan tekanan psikologis. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">codependency</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">learned helplessness</span></em><span style="font-weight: 400;">, dua konsep psikologis yang menjelaskan bagaimana individu dapat bertahan dalam relasi disfungsiona</span><span style="font-weight: 400;">l. </span><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini berupaya menjawab kesenjangan pemahaman mengenai bagaimana ketergantungan emosional dan perasaan tidak berdaya saling berinteraksi dalam mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei </span><em><span style="font-weight: 400;">cross-sectional</span></em><span style="font-weight: 400;">. Data dikumpulkan melalui kuesioner pada dewasa awal yang memiliki pasangan, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara </span><em><span style="font-weight: 400;">codependency</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">learned helplessness</span></em><span style="font-weight: 400;"> (r = -0,452; p < 0,001). Ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">codependency</span></em><span style="font-weight: 400;">, semakin rendah tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">learned helplessness</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada dewasa awal.</span> <span style="font-weight: 400;">Penelitian ini memiliki keterbatasan pada sampel yang hanya mencakup individu dengan pasangan, penggunaan desain </span><em><span style="font-weight: 400;">cross-sectional</span></em><span style="font-weight: 400;">, serta keterbatasan waktu dan sumber daya. Meskipun demikian, hasil penelitian memberikan kontribusi penting bagi akademisi maupun praktisi, khususnya memahami faktor psikologis yang membuat individu bertahan dalam hubungan tidak sehat. </span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/505Scroll Tak Berujung, Pikiran Tak Tenang: Dampak Doomscrolling terhadap Psychological Distress pada Mahasiswa di Indonesia2026-03-30T03:22:27+00:00Albin PrayogaAlbinprayoga23@student.unibi.ac.idDevanan Mangaratua Sagaladevanan@yahoo.comNida Muthi Annisanidamuti@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Perkembangan teknologi digital membuat mahasiswa semakin aktif dalam menggunakan media sosial tersebut sebagai sumber informasi dan sarana aktualisasi diri. Namun, intensitas penggunaan yang tinggi dapat memunculkan fenomena yang disebut </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling, </span></em><span style="font-weight: 400;">yaitu perilaku dengan kecenderungan menelusuri informasi bernuansa negatif secara berlebihan yang dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling </span></em><span style="font-weight: 400;">terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress </span></em><span style="font-weight: 400;">pada mahasiswa di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana dengan pengolahan datanya menggunakan aplikasi </span><em><span style="font-weight: 400;">IBM SPSS Version 25</span></em><span style="font-weight: 400;">. Data penelitian ini diperoleh dari 202 responden mahasiswa di Indonesia melalui kuesioner daring menggunakan </span><em><span style="font-weight: 400;">Google Form</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling </span></em><span style="font-weight: 400;">berpengaruh positif dan signifikan terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress </span></em><span style="font-weight: 400;">pada mahasiswa (p < 0,05; β = 0,320), dengan kontribusi sebesar 10,2% terhadap variabilitas </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress </span></em><span style="font-weight: 400;">(R² = 0,102). Hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi intensitas </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling, </span></em><span style="font-weight: 400;">semakin tinggi pula tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress </span></em><span style="font-weight: 400;">yang dialami. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada lingkup responden yang masih terbatas pada mahasiswa, penerapan desain survei </span><em><span style="font-weight: 400;">cross-sectional</span></em><span style="font-weight: 400;">, serta keterbatasan waktu dan biaya penelitian. Meskipun demikian, hasil dari penelitian ini berimplikasi penting untuk akademisi, praktisi kesehatan mental, dan pengambil kebijakan untuk merancang intervensi pencegahan </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress </span></em><span style="font-weight: 400;">berbasis literasi digital. Penelitian ini dapat berkontribusi dengan menghadirkan bukti empiris mengenai fenomena </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling </span></em><span style="font-weight: 400;">pada mahasiswa Indonesia. Selain itu membuka peluang penelitian lanjutan terkait peran faktor mediasi maupun moderasi dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">doomscrolling </span></em><span style="font-weight: 400;">dan </span><em><span style="font-weight: 400;">psychological distress.</span></em></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/506Transformasi Pendidikan melalui Etnopedagogik: Menjembatani Kesenjangan Kurikulum Nasional - Kearifan Lokal dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran2026-03-30T03:32:59+00:00Evi Nurlailaevinurlaila@umpri.ac.idElga Nurfauziahelganurfauziah@yahoo.comAisyatun Rosidahaisyatun@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Transformasi pendidikan di Sekolah Dasar (SD) menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan kurikulum nasional dengan nilai-nilai budaya lokal melalui pendekatan etnopedagogik. Masalah utama yang dihadapi adalah adanya kesenjangan antara metode pembelajaran formal dan kearifan lokal yang kurang diperhatikan, sehingga menurunkan relevansi dan efektivitas pembelajaran. Penelitian ini melibatkan guru, siswa dan stakeholder di kabupaten/kota provinsi Lampung menggunakan teknik purposive sampling untuk memahami pengalaman mereka dalam menerapkan etnopedagogik serta mengidentifikasi hambatan dan peluang yang ada. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang menekankan pemahaman mendalam terhadap pengalaman subjektif partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan aplikasi NVIVO. Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa kurikulum nasional seringkali kurang mengakomodasi kearifan lokal, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Guru mengalami kendala dalam mengintegrasikan nilai budaya lokal karena keterbatasan sumber daya dan pelatihan. Namun, penerapan kearifan lokal terbukti meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat identitas budaya, dan mendukung pengembangan karakter. Diperlukan dukungan kebijakan dan pelatihan berkelanjutan agar integrasi ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara efektif dan kontekstual. Kesimpulannya, pendekatan etnopedagogik merupakan strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SD dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya lokal.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/507Grit dan Task Commitment: Dua Pilar Ketangguhan Akademik Mahasiswa2026-03-30T03:43:46+00:00Salwa Gita Lestarisalwagitalestari23@studentunibi.ac.idDuri Lutfiahdurilutfiah@yahoo.comCahyaning Widhyastuticahyaning@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">task commitment</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada mahasiswa, mengingat keduanya diyakini berperan penting dalam keberhasilan akademik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang berisi dua skala yaitu skala </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">task commitment</span></em><span style="font-weight: 400;">. Penelitian melibatkan 155 mahasiswa dengan teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">purposive sampling, </span></em><span style="font-weight: 400;">dengan kriteria mahasiswa aktif program diploma atau sarjana yang sedang menempuh perkuliahan dan memiliki pengalaman dalam mengerjakan tugas akademik. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson melalui perangkat lunak </span><em><span style="font-weight: 400;">IBM SPSS Statistics versi 25</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">task commitment </span></em><span style="font-weight: 400;">(r = 0,414; p < 0,000). Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> yang lebih tinggi cenderung memiliki komitmen lebih kuat dalam menyelesaikan tugas akademik meski menghadapi tantangan. Sebaliknya, ketika mahasiswa memiliki </span><em><span style="font-weight: 400;">grit </span></em><span style="font-weight: 400;">yang rendah, maka cenderung memiliki komitmen yang lemah dalam menyelesaikan tugas akademik. Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah sampel yang terbatas, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Meski demikian, penelitian ini berkontribusi bagi akademisi dan praktisi pendidikan untuk merancang strategi pengembangan ketekunan, manajemen diri, dan pembinaan karakter mahasiswa.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/508Kajian Literatur: Literasi Kesehatan Mental dan Pengaruhnya pada Intensi Pencarian Bantuan Profesional oleh Perempuan dalam Dating Violence2026-03-30T03:52:32+00:00Virza Tsaniyah220541100074@student.trunojoyo.ac.idLailatul Muarofah Hanimlailatulmuarofah@yahoo.comNur Istiqomahnuristiqomah@yahoo.com<p><strong> </strong><span style="font-weight: 400;">Kajian literatur ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh literasi kesehatan mental terhadap intensitas mencari bantuan profesional pada perempuan yang mengalami </span><em><span style="font-weight: 400;">dating violence</span></em><span style="font-weight: 400;">. </span><em><span style="font-weight: 400;">Dating violence</span></em><span style="font-weight: 400;"> dapat menimbulkan risiko fisik dan psikologis yang serius, sehingga kemampuan untuk mencari dukungan yang tepat sangat penting bagi korban. Permasalahan utama yang ingin diselesaikan adalah minimnya pemahaman mengenai bagaimana literasi kesehatan mental dapat meningkatkan kesiapan dan niat korban dalam mencari pertolongan, serta tantangan seperti stigma dan akses layanan yang masih menjadi kendala. Metode dalam kajian literatur ini menggunakan pendekatan </span><em><span style="font-weight: 400;">systematic literature review</span></em><span style="font-weight: 400;"> (SLR) yang terstruktur untuk mengumpulkan, menilai, menggabungkan, dan menyusun hasil dari berbagai penelitian-penelitian dengan tahun terbit antara tahun 2015-2025 mengenai pertanyaan atau topik yang relevan. Instrumen penelitian berupa kumpulan sumber sekunder seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian, dengan pengelolaan referensi menggunakan perangkat lunak </span><em><span style="font-weight: 400;">mendeley</span></em><span style="font-weight: 400;"> serta catatan manual menggunakan buku dan laptop. Hasil kajian literatur menunjukkan adanya pengaruh antara literasi kesehatan mental terhadap intensitas mencari bantuan profesional, dengan faktor moderator berupa stigma, dukungan sosial, dan akses layanan kesehatan mental. Tingginya literasi kesehatan mental berkontribusi pada peningkatan niat korban untuk mencari pertolongan profesional, meskipun hambatan sosial dan stigma masih menjadi kendala utama yang harus diatasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental melalui intervensi edukasi dan komunitas guna memberdayakan korban, mengurangi stigma, dan meningkatkan akses layanan kesehatan mental. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pembuat kebijakan, pendidik, dan tenaga kesehatan dalam mendukung perempuan rentan mengatasi</span> <span style="font-weight: 400;">hambatan mencari bantuan dan meningkatkan hasil kesehatan mental dalam konteks </span><em><span style="font-weight: 400;">dating violence</span></em><span style="font-weight: 400;">.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/509Analisis Moderasi Grit sebagai Penguat Hubungan Antara Kesejahteraan Subjektif dan Keterlibatan Kerja Guru Pendidikan Dasar2026-03-30T03:57:01+00:00Muhammad Rozan Alfarisi muhammadrozanalfarisi@gmail.comTarmidi Dedehtarmidi@yahoo.comFasti Rola fastirola@usu.ac.idDian Ulfasari Pasaribudianulfasari@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Guru yang memiliki pandangan positif terhadap pekerjaannya dan melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati cenderung menunjukkan kinerja dan kompetensi mengajar yang tinggi. Penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan positif antara kesejahteraan subjektif dan keterikatan kerja, namun kekuatan hubungan tersebut bervariasi dari lemah hingga kuat. Untuk menjelaskan variasi ini, penelitian ini mengkaji </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;">, sifat kepribadian yang mencerminkan ketekunan dan semangat jangka panjang terhadap tujuan, sebagai variabel moderator dalam hubungan antara kesejahteraan subjektif dan keterikatan kerja pada guru pendidikan dasar di Indonesia. Skala yang digunakan untuk mengukur </span><em><span style="font-weight: 400;">grit </span></em><span style="font-weight: 400;">adalah skala </span><em><span style="font-weight: 400;">grit </span></em><span style="font-weight: 400;">guru, kesejahteraan subjektif diukur dengan Positive Affect and Negative Affect Schedule (PANAS) dan Satisfaction with Life Scale (SWLS) versi bahasa Indonesia, dan keterikatan kerja diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9) versi bahasa Indonesia. Sebanyak 189 guru (37 laki-laki, 152 perempuan) berusia 19 hingga 61 tahun (M = 38, SD = 11,39) berpartisipasi dalam penelitian ini. Analisis dilakukan menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> secara signifikan memperkuat hubungan positif antara kesejahteraan subjektif dan keterikatan kerja (r = .589, R² = .021, F(1,185) = 6.83, p = .010), dan efek ini tetap konsisten setelah dikontrol dengan faktor personal (r = .622, R² = .338, F(14,174) = 7.85, p = .011). Temuan ini menegaskan peran penting </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> dalam memperkuat keterkaitan antara kesejahteraan subjektif dan keterlibatan kerja, bahkan ketika mempertimbangkan perbedaan individu. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap bukti yang berkembang mengenai pentingnya pengembangan </span><em><span style="font-weight: 400;">grit</span></em><span style="font-weight: 400;"> untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja profesional di lingkungan pendidikan.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/510Spiritual Calling: A Qualitative Study in The Context of Christian Ministry2026-03-30T04:01:23+00:00Andrea Chrissanda Ollyiandrea.ollyi@my.sampoernauniversity.ac.idNameera Ashfiya Firmansyahnameeraashfiya@yahoo.comDarrel Bright Lie darrelbright@yahoo.comVarhan Dewa Samudra Santosavarhandewa@yahoo.comFakhri Makarim Yudantofakhriyudanto@yahoo.comAde Iva Murtyadeiva@yahoo.comEunike Mutiaraeunikemutiara@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Spirituality is increasingly recognised as a vital dimension of mental health, offering individuals a sense of purpose, resilience, and emotional grounding. However, little research has examined how spiritual calling contributes to mental health in contexts where Christians represent a minority faith, such as Indonesia. This qualitative study explores how spirituality, expressed through a sense of divine calling, shapes the well-being of church ministers. Data were collected through a qualitative phenomenological approach using Focus Group Discussion (FGD) with three active ministers from IES PIK Church Jakarta: a Sunday school teacher, a worship leader, and a pastor, supplemented by participant observation in a multinational congregation in Jakarta. The data was analysed using thematic analysis to identify patterns and central themes within the participants’ responses. Findings indicate that ministers interpret their vocational journeys as evidence of a spiritual calling, viewing pivotal life experiences as divine guidance that anchors both their identity and service. This sense of calling provides meaning, strengthens resilience, and enables coping with the emotional burdens of ministry. Spiritual practices such as prayer, worship, and teaching cultivate patience, forgiveness, and hope, reinforcing well-being amidst stress and fatigue. At the same time, the minority position of Christianity in Indonesia underscores how calling functions not only as a personal resource but also as a communal anchor, fostering belonging and collective strength. In conclusion, this study highlights calling as both a protective factor and a developmental process that sustains flourishing by situating spiritual calling within the intersection of mental health and minority religious identity.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/511Between Hearts, Minds, and Grades: A Study On The Link Between Interpersonal Relationships, Mental Health, and Academic Outcomes2026-03-30T04:14:53+00:00Laiba Muqadas25991001@students.uii.ac.idHazhira Qudsyihazhiraqudsyi@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">This study aims to examine the relationship between mental health, the quality of personal relationships, and academic performance among university students, focusing on how interpersonal relationships and academic achievement influence psychological well-being within collectivistic cultural contexts such as Indonesia and Pakistan. Participants were university students from various faculties in both countries, selected through convenience sampling, who completed a Google Form containing the </span><em><span style="font-weight: 400;">Depression, Anxiety, and Stress Scale</span></em><span style="font-weight: 400;"> (DASS-21), the </span><em><span style="font-weight: 400;">Experiences in Close Relationships–Relationship Structures</span></em><span style="font-weight: 400;"> (ECR-RS), and self-reported academic grades. Data were analyzed using Pearson correlations and multiple regression. Moreover, 49.2% of students reported that romantic relationships were the most influential in their emotional lives, and 80.8% stated they could not discuss their romantic problems with their parents. The findings indicate that lower relationship quality and poor emotional regulation are associated with higher levels of depression, anxiety, and stress. Additionally, increased stress levels contribute to lower academic performance, creating a cycle of emotional strain and declining academic achievement. These results highlight the importance of emotional support and healthy emotion-regulation strategies to help students manage psychological pressure effectively.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/512Ketika Penilaian Menjadi Ancaman: Eksperimen Peran Fear of Negative dan Positive Evaluation terhadap Anxiety2026-03-30T05:40:02+00:00Felicia Angeline ChristianS13240123@student.ubm.ac.idJenifer Gunawanjenifergunawan@yahoo.comKirana Ratna Sendjajakiranaratna@yahoo.comMarchelina Febe Sumbaga marchelinafebe@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu tantangan umum yang dapat menimbulkan kecemasan di kalangan mahasiswa. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan hal ini adalah ketakutan akan penilaian secara negatif (</span><em><span style="font-weight: 400;">fear of negative evaluation</span></em><span style="font-weight: 400;"> / FNE) dan positif (</span><em><span style="font-weight: 400;">fear of positive evaluation </span></em><span style="font-weight: 400;">/ FPE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety </span></em><span style="font-weight: 400;">sebelum dan sesudah partisipan menerima evaluasi positif dan negatif dalam pidato mendadak. Partisipan merupakan 30 orang mahasiswa S1 di Jakarta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan menggunakan metode eksperimen </span><em><span style="font-weight: 400;">one-group pretest posttest design</span></em><span style="font-weight: 400;">. Data dikumpulkan melalui </span><em><span style="font-weight: 400;">State-Trait Anxiety Inventory-State </span></em><span style="font-weight: 400;">(STAI-S), </span><em><span style="font-weight: 400;">Brief Fear of Negative Evaluation-II </span></em><span style="font-weight: 400;">(BFNE-II), dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Fear of Positive Evaluation Scale </span></em><span style="font-weight: 400;">(FPES). Analisis data dilakukan dengan uji reliabilitas dan validitas untuk semua alat ukur, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t. Analisis data menunjukkan bahwa semua alat ukur sangat reliabel, valid untuk digunakan, berdistribusi normal, dan homogen. Hasil uji beda menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety </span></em><span style="font-weight: 400;">sebelum dan sesudah perlakuan, meskipun terjadi perubahan rata-rata kecemasan setelah menerima evaluasi. Terjadi peningkatan </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety </span></em><span style="font-weight: 400;">pada kelompok partisipan perempuan, sementara penurunan </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety</span></em><span style="font-weight: 400;"> diobservasi terjadi pada kelompok laki-laki. Temuan ini menyimpulkan bahwa terdapat faktor lain selain jenis evaluasi yang dapat memengaruhi perubahan tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety </span></em><span style="font-weight: 400;">secara signifikan, seperti faktor biologis dan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian mengenai hubungan antara FNE dan FPE terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">state anxiety </span></em><span style="font-weight: 400;">di Indonesia. </span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/513Gambaran Aktualisasi Diri pada Atlet Difabel Berprestasi di National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Sumatera Utara 2026-03-30T05:48:12+00:00Imran Setiawan Geaimransetiawan.gea@student.uhn.ac.idNancy Naomi G. P. Aritonangaritonang@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran aktualisasi diri pada atlet difabel berprestasi di </span><em><span style="font-weight: 400;">National Paralympic Committee of Indonesia</span></em><span style="font-weight: 400;"> (NPCI) Sumatera Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi yang berfokus pada pemahaman pengalaman subjektif atlet dalam mencapai aktualisasi diri. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan.dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet difabel berprestasi memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya melalui pencapaian prestasi, keterlibatan aktif dalam latihan, pengembangan potensi diri dan kemampuan menghadapi tantangan secara sosial dan psikologis dalam bentuk kreativitas, moralitas, penerimaan diri, spontanitas dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Problem solving.</span></em> <span style="font-weight: 400;">Faktor-faktor seperti motivasi internal dan eksternal, dukungan sosial, keyakinan dan penerimaan diri berperan penting dalam memperkuat proses dalam mencapai aktualisasi diri. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai dinamika psikologis atlet difabel berprestasi dalam mengaktualisasikan diri, menggambarkan bagaimana fleksibilitas hirarki kebutuhan manusia terwujud serta menegaskan bahwa prestasi olahraga menjadi jalur penting bagi individu difabel untuk mencapai aktualisasi diri.</span><strong> </strong></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/514Studi Literatur: Peran Dukungan Sosial Teman Sebaya dalam School Engagement pada Siswa2026-03-30T05:55:39+00:00Annisa Maharani 220541100167@student.trunojoyo.ac.idNi Putu Rizky Arnani rizkyarnani@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Adanya penelaah peran dukungan sosial teman sebaya dalam membangun </span><em><span style="font-weight: 400;">school engagement</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada siswa sekolah. Fenomena menurunnya keterlibatan siswa terhadap kegiatan sekolah menunjukkan perlunya pemahaman mendalam mengenai faktor psikososial yang berperan dalam meningkatkan keterikatan sekolah. Penulisan ini menggunakan metode studi literatur dengan meninjau berbagai hasil penelitian nasional dan internasional terkait dukungan sosial teman sebaya dan </span><em><span style="font-weight: 400;">school engagement</span></em><span style="font-weight: 400;">. Analisis dilakukan dengan pendekatan tematik untuk menemukan pola hubungan antar variabel dan kesimpulan konseptual dari penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan penting dalam meningkatkan </span><em><span style="font-weight: 400;">school engagement, </span></em><span style="font-weight: 400;">baik secara emosional, perilaku, maupun kognitif. Teman sebaya memberikan rasa diterima dan dukungan sosial yang memotivasi dan hal ini dapat membentuk keterikatan positif siswa terhadap sekolah. Kajian ini berkontribusi pada pemahaman konseptual tentang pentingnya relasi sosial di lingkungan pendidikan serta membuka peluang penelitian empiris lanjutan pada konteks lokal nantinya.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/515Learning Agility dalam Mendukung Peran Guru Pendamping Khusus dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif2026-03-30T06:00:27+00:00Nadia Masfufatul Islamiyah 220541100085@student.trunojoHapsari Puspita Rinihapsari@yahoo.com<p><strong> </strong><span style="font-weight: 400;">Pendidikan inklusif memerlukan guru pendamping khusus untuk dapat beradaptasi dengan berbagai tantangan dalam membantu siswa berkebutuhan khusus. Kondisi ini menjadikan </span><em><span style="font-weight: 400;">learning agility</span></em><span style="font-weight: 400;"> sebagai aspek penting yang perlu dipahami dalam konteks peran guru pendamping khusus. Artikel ini bertujuan untuk meninjau literatur tentang </span><em><span style="font-weight: 400;">learning agility</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada pendidik dan relevansinya dengan praktik pendidikan inklusif. Metode yang digunakan adalah </span><em><span style="font-weight: 400;">Narrative Literature Review</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan menganalisis artikel jurnal nasional dan internasional yang relevan dengan topik </span><em><span style="font-weight: 400;">learning agility</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan peran guru pendamping khusus dalam pendidikan inklusif. Diperoleh 2 artikel yang sesuai dengan kriteria melalui </span><em><span style="font-weight: 400;">google scholar</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil penelitian menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">learning agility</span></em><span style="font-weight: 400;"> berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan efektivitas peran guru pendamping khusus, terutama dalam menghadapi tantangan, mengembangkan strategi pengajaran, dan beradaptasi dengan keberagaman siswa. Pemahaman mendalam terkait </span><em><span style="font-weight: 400;">learning agility</span></em><span style="font-weight: 400;"> dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kompetensi guru pendamping khusus dan mendukung keberhasilan pendidikan inklusif di Indonesia.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/516Studi Literatur: Peran Dukungan Sosial Teman Sebaya dalam Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Santri2026-03-30T06:08:22+00:00Aina Azka Falabiba 220541100185@student.trunojoyo.ac.idSetyaningsihsetyaningsah@yahoo.comLailatul Muarofah Hanimhanim@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Kesejahteraan psikologis santri merupakan aspek penting dalam keberhasilan pendidikan di pesantren agar santri bisa menghadapi tekanan sosial dan akademik akibat hidup jauh dari keluarga serta tuntutan disiplin yang tinggi. Kajian ini bertujuan untuk memahami bagaimana dukungan sosial yang diberikan oleh teman Kesejahteraan psikologis santri merupakan aspek penting dalam keberhasilan pendidikan di pesantren.. Partisipan penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dari tujuh artikel ilmiah terbitan tahun 2015–2025 yang relevan dengan topik penelitian. Metode yang digunakan ialah analisis literatur dengan meninjau teori, hasil, dan temuan empiris dari setiap studi. Hasil kajian menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan penting dalam membantu santri beradaptasi, mengurangi stres, serta meningkatkan rasa percaya diri dan kebahagiaan. Bentuk dukungan emosional, informasional, dan penghargaan dari teman sebaya terbukti memperkuat kesejahteraan psikologis santri. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa hubungan sosial positif antar santri menjadi faktor protektif dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis di lingkungan pesantren.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/517Studi Review Literatur: Peran Self-Compassion dalam Mengurangi Stres Akademik pada Mahasiswa Tingkat Akhir2026-03-30T06:15:08+00:00Jasmine Mega Ayu Trisa Putrijasminemega944@gmail.comSetyaningsihsetyaningsih@yahoo.comDiana Rahmasaridianarahmasari@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir merupakan permasalahan yang cukup umum dan dapat berdampak serius pada kondisi psikologis mereka. </span><em><span style="font-weight: 400;">Self-compassion </span></em><span style="font-weight: 400;">sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri secara emosional masih jarang dieksplorasi lebih mendalam, terutama dalam konteks mahasiswa Indonesia. Sebagian besar penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada strategi coping, dukungan sosial, serta regulasi emosi, sementara kajian mengenai kontribusi</span><em><span style="font-weight: 400;"> self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;"> sebagai faktor protektif terhadap stres akademik masih terbatas. Studi literatur ini menggunakan data sekunder dari enam artikel terbitan tahun 2015–2025. </span><span style="font-weight: 400;">Metode yang akan digunakan adalah </span><em><span style="font-weight: 400;">Systematic Literature Review</span></em><span style="font-weight: 400;"> (SLR).</span><span style="font-weight: 400;"> Hasil literatur menunjukkan bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion </span></em><span style="font-weight: 400;">memiliki kontribusi yang signifikan dalam mengurangi tingkat stres akademik di kalangan mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa dengan tingkat </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion </span></em><span style="font-weight: 400;">yang tinggi cenderung lebih mampu menerima kesalahan, menghadapi tekanan dengan sudut pandang yang realistis, serta tidak terjebak dalam pikiran negatif saat mengalami kegagalan akademik. Adapun simpulan literatur ini adalah bahwa </span><em><span style="font-weight: 400;">self-compassion</span></em><span style="font-weight: 400;"> memiliki peran penting dalam mengurangi stres akademik di kalangan mahasiswa tingkat akhir yang sedang menghadapi tuntutan penyusunan tugas akhir atau skripsi.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/518Kepribadian HEXACO dan Harga Diri pada Korban Bullying: Studi Korelasional pada Remaja di Kota Semarang2026-03-30T06:20:25+00:00Fadli Delian Pangaribawafadlidelian@students.undip.ac.idMuhammad Revaldorevaldo@yahoo.comAriel Christian Samuelsamuel@yahoo.comArief Triman triman@yahooo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara dimensi kepribadian HEXACO dan harga diri pada remaja korban perundungan di Kota Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan sampel berjumlah 71 remaja dari jenjang sekolah mengengah atas (SMA) yang melaporkan pernah mengalami </span><em><span style="font-weight: 400;">bullying</span></em><span style="font-weight: 400;">. Instrumen yang digunakan adalah</span><em><span style="font-weight: 400;"> HEXACO Personality Inventory–Revised</span></em><span style="font-weight: 400;"> (HEXACO-60) dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Rosenberg Self-Esteem Scale </span></em><span style="font-weight: 400;">(RSES). Data dikumpulkan secara daring dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan Spearman berdasarkan hasil uji normalitas. Selain itu, analisis tambahan dilakukan pada hasil dari masing-masing dimensi dalam disposisi kepribadian, melalui uji penormaan. Hasil menunjukkan bahwa empat dimensi kepribadian, yaitu </span><em><span style="font-weight: 400;">Emotionality, Extraversion, Agreeableness,</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Openness to Experience, </span></em><span style="font-weight: 400;">memiliki hubungan positif signifikan dengan harga diri. Sementara itu, </span><em><span style="font-weight: 400;">Honesty–Humility</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Conscientiousness</span></em><span style="font-weight: 400;"> tidak menunjukkan hubungan signifikan. Pengujian penormaan pun menemukan bahwa kebanyakan siswa SMA yang menjadi korban bullying di Kota Semarang memiliki karakter sangat emosional, cukup fleksibel, optimis, dan mudah memaafkan, serta hangat. Mereka juga memiliki kemampuan regulasi diri dan penilaian moral yang baik. Temuan ini menegaskan bahwa aspek sosial dan emosional kepribadian berperan penting dalam pembentukan persepsi diri positif pada remaja korban perundungan, sehingga relevan sebagai landasan ilmiah dalam memahami faktor intrapersonal yang mendukung kesejahteraan psikologis remaja.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/519Transformasi Strategi Guru SLB melalui Lokakarya Kelas Adaptif dan Penguatan PLC2026-03-30T06:25:17+00:00Siti Shalihashaliha.siti@gmail.comAde Iva Murtyadeiva@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas pedagogis guru di SLB C Swakarya dalam menerapkan pembelajaran adaptif. Lokakarya “Membaca Kebutuhan, Membangun Kelas Adaptif” disusun untuk memperkuat pemahaman guru tentang diferensiasi pembelajaran, mengembangkan kemampuan merancang Lembar Kerja Siswa (LKS) adaptif, dan memfasilitasi pembentukan professional learning community (PLC). Program ini menggunakan pendekatan partisipatif–reflektif dengan mengombinasikan observasi kelas, refleksi individu, diskusi kelompok, serta perancangan LKS sebagai sumber data. Hasil audit menunjukkan bahwa guru memiliki komitmen tinggi, tetapi masih menghadapi kesulitan dalam menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI), mendokumentasikan proses pembelajaran secara konsisten, dan menjalin kolaborasi rutin dengan orang tua. Pelaksanaan lokakarya menghasilkan peningkatan kesadaran reflektif guru, perbaikan kualitas rancangan LKS yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, serta penguatan kerja sama antarguru yang berfungsi sebagai titik awal terbentuknya PLC. Program ini berkontribusi pada pengembangan kompetensi guru pendidikan luar biasa dalam menciptakan kelas adaptif dan mendukung terbentuknya budaya belajar profesional yang berkelanjutan.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/520Strategi Pengurangan Kesenjangan Layanan Pendidikan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di Sekolah Dasar2026-03-30T06:36:31+00:00Evi Nurlailaevinurlaila@umpri.ac.idWiwin Rita Sariwiwinrita@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Kesenjangan layanan pendidikan, terutama dalam hal akses, fasilitas, dan sumber daya pengajar, masih menjadi permasalahan utama yang menghambat pencapaian kualitas pembelajaran yang merata begitu juga dialami guru SDS Tunas Bangsa di Kecamatan Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang. Guru di sekolah tersebut memiliki permasalahan yang sama dengan guru pada umumnya, terutama terkait dengan deep learning, pemrograman (koding), dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Namun, keterbatasan pengetahuan dan pengalaman guru ini menjadi kendala utama</span><span style="font-weight: 400;">. </span><span style="font-weight: 400;">Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengorganisasi dan menginterpretasi data kualitatif selama kegiatan PKM yang diterapkan meliputi pelatihan intensif, workshop yang bersifat interaktif, serta pendampingan langsung bagi guru SDS Tunas Bangsa Dente Teladas. Pelatihan difokuskan pada pengenalan dasar deep learning, pemrograman menggunakan bahasa yang sesuai, serta penerapan kecerdasan buatan dalam konteks pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemehaman guru di SDS Tunas Bangsa Dente Teladas terkait dengan deep learning, pemrograman (koding), dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) meningkat. Adapun strategi yang efektif mengatasi kesenjangan layanan pendidikan meliputi penyediaan akses akomodasi yang memadai, peningkatan pelatihan guru yang difokuskan pada pengenalan dasar deep learning, pemrograman menggunakan bahasa yang sesuai, serta penerapan kecerdasan buatan dalam konteks pembelajaran, penyediaan sumber belajar yang memadai, serta penguatan peran komunitas sekolah dalam mendukung proses pembelajaran. Kesimpulannya perlu adanya koordinasi untuk mengatasi permasalahan ini untuk mewujudkan kualitas pendidikan menjadi lebih baik. </span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/521Kualitas Kehidupan Kerja dan Budaya Riset Dosen di Perguruan Tinggi (Perspektif Global melalui Systematic Literature Review) 2026-03-30T06:41:57+00:00Apreriri Cahyani apreriri.riri@gmail.comNeti Karnati neti@yahoo.comMutia Delinadelina@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Kajian penelitian ini mengeksplorasi Kualitas Kehidupan Kerja (</span><em><span style="font-weight: 400;">Quality of Work Life/QWL</span></em><span style="font-weight: 400;">) dan Budaya Riset dosen dalam perspektif global melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Mengkaji artikel ilmiah yang diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2025, yang diperoleh dari penelurusan Google Scholar, EBSCO, dan Emerald. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menelaah 30 artikel yang terpilih. Seiring dengan upaya perguruan tinggi di seluruh dunia untuk meningkatkan produktivitas dan kolaborasi riset, QWL muncul sebagai faktor krusial yang memengaruhi kepuasan kerja dan output ilmiah dosen. Hasil kajian menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang mendukung, yang ditopang oleh kebijakan QWL, yang memengaruhi terhadap budaya riset yang positif. Budaya riset yang sehat tercermin dalam nilai-nilai kolaboratif, integritas ilmiah, dan dukungan kelembagaan yang mendorong inovasi dan keberlanjutan riset. Studi ini juga mengungkap tantangan institusional seperti tekanan metrik kinerja, ketimpangan insentif, dan minimnya dukungan psikososial yang dapat menghambat pengembangan budaya riset. Berdasarkan temuan tersebut, artikel ini merumuskan rekomendasi kebijakan strategis bagi perguruan tinggi untuk mengintegrasikan QWL dan budaya riset dalam kebijakan kelembagaan, guna menciptakan ekosistem akademik yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/522Perilaku Agresi Verbal pada Anak ADHD di Lingkungan Sekolah (Studi Kasus Sekolah Dasar Swasta Pantara)2026-03-30T06:47:23+00:00Naila Tsabita Mu'minnaila.202107000101@student.atmajaya.ac.idPenny Handayani pennyhandayani@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Masa kanak-kanak merupakan masa emas bagi tahap perkembangan anak. Hal ini berlaku juga pada anak ADHD yang memerlukan pendidikan khusus agar dapat mengembangkan diri dengan maksimal. Namun, anak ADHD memiliki kesulitan regulasi emosi sehingga rentan memunculkan perilaku agresi verbal apabila terpapar lingkungan yang agresif pula. Pada saat ini, perilaku agresi verbal tidak umum dipahami oleh pendidik. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran keseluruhan mengenai perilaku agresi verbal beserta faktor yang berkontribusi pada kemunculan perilaku tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif studi kasus. Partisipan terdiri atas tiga orang guru dan lima siswa ADHD berusia sekolah yang dipilih dengan metode </span><em><span style="font-weight: 400;">purposive sampling</span></em><span style="font-weight: 400;">. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara yang disusun berdasarkan lima aspek: agresi verbal aktif langsung, agresi verbal aktif tidak langsung, agresi verbal pasif langsung, agresi verbal pasif tidak langsung, dan disregulasi emosi. Analisa data dilakukan secara tematik. Hasil gambaran agresi verbal yang ditemukan adalah perilaku berteriak, membentak, mengancam, mengejek, berkata kasar pada orang lain, serta menghindari lawan bicara. Perilaku tersebut muncul sebagai respon reaktif partisipan terhadap emosi yang dirasakan, baik secara positif maupun negatif. Faktor-faktor pendukung munculnya perilaku agresi verbal yang ditemukan adalah frekuensi interaksi sehari-hari anak dengan anggota keluarga, jenis media internet yang diakses oleh anak, serta suasana antar siswa yang dimiliki di kelas. Apabila dilakukannya pengumpulan data melalui metode observasi pada penelitian selanjutnya, sebaiknya dilaksanakan selama minimal tiga minggu demi mendapatkan kelengkapan data pola perilaku agresi verbal siswa secara mendetail.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/523Merajut Dukungan, Meraih Kesuksesan: Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Subjective Career Success Pada Guru Honorer2026-03-30T06:51:35+00:00Hamzah Zuyyina Rahmat hamzahzuyyinarahmat23@student.unibi.ac.idRaisa Salsabila Ghaisanisalsabila@yahoo.comPradiptya Septiyani Putri putri@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh </span><em><span style="font-weight: 400;">Perceived Organizational Support</span></em><span style="font-weight: 400;"> (POS) terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">Subjective Career Success</span></em><span style="font-weight: 400;"> (SCS) pada guru honorer di Indonesia. Kesuksesan karir tidak hanya dilihat dari aspek objektif seperti jabatan atau penghasilan, tetapi juga dari sisi subjektif berupa kepuasan, makna, dan perasaan pencapaian yang dirasakan individu dalam pekerjaannya. Guru honorer sebagai bagian penting dari sistem pendidikan nasional sering kali menghadapi keterbatasan kesejahteraan, kurangnya pengakuan, serta keterbatasan kesempatan untuk berkembang, sehingga dukungan organisasi menjadi faktor yang sangat menentukan dalam membentuk persepsi terhadap kesuksesan karir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain </span><em><span style="font-weight: 400;">cross-sectional</span></em><span style="font-weight: 400;">. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Form yang diisi oleh 206 responden guru honorer, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POS berpengaruh signifikan terhadap SCS dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,491 menunjukkan bahwa POS memengaruhi SCS sebesar 49,1%, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa keterbatasan waktu, biaya, serta distribusi responden yang belum merata, tetapi tetap memberikan kontribusi penting dengan menegaskan bahwa POS berperan besar dalam membentuk SCS guru honorer. Temuan ini juga menjadi masukan praktis bagi pihak sekolah maupun pembuat kebijakan untuk menciptakan iklim kerja yang lebih suportif. Selain itu, penelitian terkait guru honorer masih tergolong terbatas sehingga studi ini memberikan tambahan literatur dan dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya dengan mempertimbangkan variabel lain seperti kepuasan kerja, motivasi, maupun kesejahteraan psikologis.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/524Hubungan Romantis Pada Dewasa: Kaitan Antara Rejection Sensitivity dan Self-Esteem2026-03-30T06:57:19+00:00Darby Hiedarbyhie22@gmail.comMarchelina Febe Sumbaga marchelinafebe@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan </span><em><span style="font-weight: 400;">Self-Esteem </span></em><span style="font-weight: 400;">terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">Rejection Sensitivity </span></em><span style="font-weight: 400;">pada individu dewasa yang pernah mengalami putus hubungan. Pengambilan data dilakukan melalui kuisioner menggunakan skala </span><em><span style="font-weight: 400;">Rosenberg Self</span></em><span style="font-weight: 400;">-</span><em><span style="font-weight: 400;">Esteem Scale </span></em><span style="font-weight: 400;">dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Adult Rejection Scale Questionnaire. </span></em><span style="font-weight: 400;">Pemilihan partisipan menggunakan teknik </span><em><span style="font-weight: 400;">purposive sampling </span></em><span style="font-weight: 400;">dan kuisioner disebarkan kepada 190 responden perempuan dan laki-laki berusia 19-65 tahun ke atas yang pernah mengalami putus hubungan beberapa tahun terakhir. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang dianalisis dengan uji korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan negatif antara </span><em><span style="font-weight: 400;">Self-Esteem </span></em><span style="font-weight: 400;">dengan </span><em><span style="font-weight: 400;">Rejection Sensitivity </span></em><span style="font-weight: 400;">pada individu dewasa yang pernah mengalami putus hubungan, tetapi hubungannya bersifat sangat lemah (r = 0,095, p < 0,05). Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lain beberapa diantaranya adalah </span><em><span style="font-weight: 400;">Social Support</span></em><span style="font-weight: 400;"> dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Coping Mechanism</span></em><span style="font-weight: 400;">.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://conference.univpancasila.ac.id/index.php/prosidingpsikologi/article/view/525Peran Manajemen Sumber Daya Manusia dan Dukungan terhadap Work Study Balance Di Era Digitalisasi pada Mahasiswa Universitas Pamulang2026-03-30T07:01:19+00:00Eka Sri Rahayu Novianiekasrirahayunoviani@gmail.comNida Ul Wafanidaulwafa@yahoo.com<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran manajemen sumber daya manusia (SDM) dan dukungan organisasi terhadap pencapaian </span><em><span style="font-weight: 400;">work-study balance</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada mahasiswa Universitas Pamulang yang juga bekerja, di tengah tantangan era digitalisasi. Perubahan dinamika kerja dan pembelajaran yang semakin terdigitalisasi menuntut mahasiswa pekerja untuk mampu menyeimbangkan tuntutan akademik dan profesional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 responden yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Pamulang yang bekerja paruh waktu maupun penuh waktu. Data dianalisis menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji pengaruh manajemen SDM dan dukungan terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">work-study balance</span></em><span style="font-weight: 400;">. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen SDM yang baik, termasuk fleksibilitas kerja dan pelatihan pengembangan diri, serta dukungan dari atasan dan lingkungan kampus, berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan mahasiswa dalam menyeimbangkan pekerjaan dan studi. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan tempat kerja dalam menciptakan sistem pendukung yang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa di era digital.</span></p>2026-03-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026